Rabu, 02 Januari 2013

Gaya Hidup (tak) Sehat


***
Hal paling sederhana dalam hidup itu adalah menjaga kepercayaan orang tua, setuju??? “Tidak” tentu saja itu jawaban dari pertanyaan diatas.
Someday, saya pergi kerumah salah satu keluarga untuk merayakan Natal. Saya sudah berpikir akan bersenang-senang disana, dengan sajian kue lapis khas Kalimantan, kue basah sampai kue kering. Lebih menyenangkan lagi jika ada suguhan peyek, makanan kesukaan saya. Pasti menyenangkan berkumpul bersama mereka sambil menghabiskan hari.
Sore itu sedikit tidak bersahabat, saya bersama beberapa teman saya tiba disebuah rumah berdinding semen putih dan berlantai papan, sebuah warung kecil terlihat didepan rumah tersebut. Tanpa ragu saya masuk kerumah tersebut, terlihat sepi dari luar hingga ruang tamu, saya memutuskan meneruskan langkah ke dapur yang cukup luas, disana saya melihat empat orang sedang berkumpul, jelas saya kenal masing-masing diantara mereka. Seorang pria yang usianya kira-kira 30 tahun, saya memanggilnya “Paman”, istrinya dan keduan anak wanitanya. Air mata yang tampak jelas dipipi tante saya dan isak tangis anak pertamanya merasuk kecelah-celah gendang telinga saya. Mata mereka sempat tertuju pada sosok saya yang berdiri didepan pintu dapur tapi mereka seolah lebih menikmati sebuah kesediahan yang terpancar diraut wajah masing-masing.
“Ada yang terjadi?” itu pertanyaan yang pertama keluar di pikiran saya.
Saya memutuskan keluar dari dalam rumah dan mengatakan kepada teman-teman saya yang menunggu disana, tiga orang pria dan empat wanita, mereka sahabat masa kecil saya main air dilapangan bola saat banjir, hingga kadang orangtua kami dating membawa sebuah kayu kecil sambil menyimbatkan kayu itu keair dan berteriak “pulanggggg”.  Saya akhirnya masuk sendiri kedalam rumah, duduk sisebelah kanan adik sepupu saya yang matanya mulai membengkak. Suasana dapur yang hening membuat saya harus membatalkan kunjungan bersama teman-teman saya. saat ini bukan waktu yang tepat untuk berkunjung membawa ‘orang luar’.
“Liat kelakuan  adikmu, orangtua udah ngasi kepercayaan dia untuk berpacaran malah gini kan akhirnya…!!!” suara lantang dan sedikit bergetar keluar dari mulut tante.
Well, saya tau jawabannya tanpa perlu penjelasan lebih lanjut. Alasan tangis ibu dan anak tertuanya yang baru berusia 18 tahun itu terjawab sudah…
Akhir dari sebuah kepercayaan yang diberikan orang tua itu tidak selamanya manis. Entah siapapun orang tuanya, profesi apapun dia, golongan apa pun mereka, tidak ada yang bisa menjamin seorang anak mampu memegang teguh kepercayaan yang diberikan orang tua mereka…
Siapa yang dirugikan setelahnya? Nama baik orang tua dipertaruhkan. Oke, mungkin setiap orang punya kebutuhan termasuk kebutuhan biologis. Zaman yang serba kebarat-baratan seperti sekarang ini sudah tidak pandang bulu, bahkan untuk usia belia.
Moderenisme dan pengaruh budaya luar sudah terlanjur masuk dinegara ini, kita tidak bisa mencegah  itu, yang bisa kita perbaiki adalah kesadaran mereka untuk menggunakan alat kontrasepsi demi kebaikan mereka sendiri tentunya…
Salam…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar