***
Hal
paling sederhana dalam hidup itu adalah menjaga kepercayaan orang tua,
setuju??? “Tidak” tentu saja itu jawaban dari pertanyaan diatas.
Someday,
saya pergi kerumah salah satu keluarga untuk merayakan Natal. Saya sudah
berpikir akan bersenang-senang disana, dengan sajian kue lapis khas Kalimantan,
kue basah sampai kue kering. Lebih menyenangkan lagi jika ada suguhan peyek,
makanan kesukaan saya. Pasti menyenangkan berkumpul bersama mereka sambil
menghabiskan hari.
Sore
itu sedikit tidak bersahabat, saya bersama beberapa teman saya tiba disebuah
rumah berdinding semen putih dan berlantai papan, sebuah warung kecil terlihat
didepan rumah tersebut. Tanpa ragu saya masuk kerumah tersebut, terlihat sepi
dari luar hingga ruang tamu, saya memutuskan meneruskan langkah ke dapur yang
cukup luas, disana saya melihat empat orang sedang berkumpul, jelas saya kenal
masing-masing diantara mereka. Seorang pria yang usianya kira-kira 30 tahun,
saya memanggilnya “Paman”, istrinya dan keduan anak wanitanya. Air mata yang
tampak jelas dipipi tante saya dan isak tangis anak pertamanya merasuk
kecelah-celah gendang telinga saya. Mata mereka sempat tertuju pada sosok saya
yang berdiri didepan pintu dapur tapi mereka seolah lebih menikmati sebuah
kesediahan yang terpancar diraut wajah masing-masing.
“Ada
yang terjadi?” itu pertanyaan yang pertama keluar di pikiran saya.
Saya
memutuskan keluar dari dalam rumah dan mengatakan kepada teman-teman saya yang
menunggu disana, tiga orang pria dan empat wanita, mereka sahabat masa kecil
saya main air dilapangan bola saat banjir, hingga kadang orangtua kami dating
membawa sebuah kayu kecil sambil menyimbatkan kayu itu keair dan berteriak
“pulanggggg”. Saya akhirnya masuk
sendiri kedalam rumah, duduk sisebelah kanan adik sepupu saya yang matanya
mulai membengkak. Suasana dapur yang hening membuat saya harus membatalkan
kunjungan bersama teman-teman saya. saat ini bukan waktu yang tepat untuk
berkunjung membawa ‘orang luar’.
“Liat
kelakuan adikmu, orangtua udah ngasi
kepercayaan dia untuk berpacaran malah gini kan akhirnya…!!!” suara lantang dan
sedikit bergetar keluar dari mulut tante.
Well,
saya tau jawabannya tanpa perlu penjelasan lebih lanjut. Alasan tangis ibu dan
anak tertuanya yang baru berusia 18 tahun itu terjawab sudah…
Akhir
dari sebuah kepercayaan yang diberikan orang tua itu tidak selamanya manis.
Entah siapapun orang tuanya, profesi apapun dia, golongan apa pun mereka, tidak
ada yang bisa menjamin seorang anak mampu memegang teguh kepercayaan yang
diberikan orang tua mereka…
Siapa
yang dirugikan setelahnya? Nama baik orang tua dipertaruhkan. Oke, mungkin
setiap orang punya kebutuhan termasuk kebutuhan biologis. Zaman yang serba
kebarat-baratan seperti sekarang ini sudah tidak pandang bulu, bahkan untuk
usia belia.
Moderenisme
dan pengaruh budaya luar sudah terlanjur masuk dinegara ini, kita tidak bisa
mencegah itu, yang bisa kita perbaiki
adalah kesadaran mereka untuk menggunakan alat kontrasepsi demi kebaikan mereka
sendiri tentunya…
Salam…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar